Senangnya Dapat Donasi dari FeminaGroup

Awalnya kami mengirimkan email ke salah satu pegawai di Femina Group 'bagaimana caranya bisa mendapatkan bantuan donasi.' Alhamdulillah ditanggapi dengan baik oleh pihak Femina Group.

Profil Rumah Baca Cibiru

Taman baca diharapkan mampu menyediakan sumber-sumber pengetahuan bagi anak-anak usia sekolah. Selain itu, taman baca Bambu Biru dapat meningkatkan minat baca masyarakat secara umum.

Inilah Donatur Rumah Baca Bambu Biru

Donasi Rumah Baca Bambu Biru diperoleh dari berbagai bantuan, baik dari rekanan rumah baca, lembaga, maupun donasi individu. Berikut adalah pemberi donasi Bambu Biru.

Berbagi Buku, Berbagi Cerita

Rumah Baca, bagi saya adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat untuk mendapatkan hak merengkuh pengetahuan.

Bakiak di Kampung Egrang

Kawan, tahukah kamu permainan tradisional bakiak? Apa enggak tahu? Ya Bakiak mungkin sudah jarang dimainkan pada era sekarang.

Minggu, 15 Mei 2016

(Permainan Tradisional) Engrang dan Makna Permainannya

Kp.Cibiru, Minggu 15 Mei 2016

Bagi yang pernah mencoba pasti tahu bahwa bermain egrang dibutuhkan tekat dan keberanian untuk jatuh ketika kita mulai menaiki pijakan. untuk melangkah tak boleh kita ragu-ragu sebab ketika kita ragu maka secara otomatis kita akan jatuh. badan kita harus condong kedepan, ketika kita mulai dengan langkah pertama maka kita segera disusul langkah berikutnya terus maju kedepan karena ketika kita bimbang atau takut jatuh dan langkah kita terhenti kita akan jatuh. dan ketika kita sudah stabil melangkah maka ingatlah untuk perlu menjaga keseimbangan. kadang kita mundur, kadang kita maju, semua untuk menjaga agar kita tetap berdiri berada pada pijakan egrang. See how amazing it is?

MAKNA PERMAINAN
Sering kali kita paham bahwa kehidupan inii membutuhkan fasilitas untuk mencapai apa yang kita inginkan. Atau sering kali kita menemukan diri kita sedang dihadapkan dalam situasi untuk menghadapi keadaan yang kita tidak yakini bahwa kita mampu menghadapinya. Oleh karena itu, kepercayaan diri merupakan faktor terpenting ketika kita menghadapi sesuatu. Yakinlah kepada diri kita sendiri bahwa kita memiliki banyak potensi yang masih bisa kita kembangkan. Yakinlah bahwa kita mampu menghadapi permasalahan apapun karena tuhan tidak memberikan cobaan kepada kita diluar kemampuan kita.
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang adalah: kerja keras, keuletan, dan sportivitas.

Penulis

Ifram Purnama Wira

Kamis, 05 Mei 2016

Senangnya Mendapat Donasi Buku dari Femina Group


Sejak didirikan, Rumah Baca Bambu Biru terus menambah koleksi bukunya dari berbagai bantuan, baik dari rekanan rumah baca, lembaga, maupun donasi individu. Untuk mendapatkan buku tentu saja melalui beberapa usaha, kita tidak bisa hanya diam berpangku tangan. Berbagai cara harus dilakukan demi perkembangan Rumah Baca yang kita kelola. Kalau bantuan buku dari rekanan rumah baca biasanya tak terlampau mengalami kesulitan, karena rumah baca lainnya dengan baik hati akan menyumbangkan buku kepada kita. Seperti yang dilakukan Sanggar Rumah Baca Cemara, melalui Kang Sandi, juga ada bantuan lain dari relawan lain seperti Kang Iponk. Mereka rutin menambah koleksi di Rumah Baca Bambu Biru. Banyak pihak lainnya di Sukabumi yang membantu Rumah Baca Bambu Biru. Bahkan KEpala Desa Cicantayan juga membantu kegiatan Rumah Baca Bambu Biru.


Nah selain bantuan dari mereka, bantuan juga harus diupayakan sendiri. Kami melakukannya dengan membuat proposal pengajuan donasi ke lembaga/ perusahaan. Langkah pertama kami mengajukan bantuan kepada Femina Group. Melalui jaringan perkenalan dengan orang tertentu, kami membuka hubungan baik kepada pihak Femina Group. Awalnya kami mengirimkan email ke salah satu pegawai di Femina Group 'bagaimana caranya bisa mendapatkan bantuan donasi.' Alhamdulillah ditanggapi dengan baik oleh pihak Femina Group. Kami disuruh membuat surat pengajuan bantuan buku dan mengirimkan proposal ke email yang telah diinformasikan sebelumnya.


Setelah menunggu seminggu, akhirnya mendapat balasan kalau kami mendapat kepastian akan mendapatkan bantuan. Bersabarlah, donasi buku tidak bisa diberikan dalam satu atau dua hari, pihak lembaga pemberi donasi pasti memerlukan proses di dalam perusahaannya. Setelah menunggu beberapa minggu diinformasikan melalui telepon kalau bantuan telah disiapkan di Jakarta. Namun bantuan tak langsung dikirimkan ke alamat Rumah Baca Bambu Biru di Sukabumi, mereka menitipkan donasi di kantor cabang atau homebase di Bandung. Ketika diberitahu tentu senang sekali rasanya. Perusahaan sebesar Femina Group ternyata sangat peduli kegiatan rumah baca.


Setelah seminggu ditelpon dan dikonfirmasi, kalau buku sudah bisa diambil di homebase Bandung. Kami diminta menghubungi seseorang di kantor Homebase Bandung. Alhamdulillah, pegawai Femina Group sangat baik sekali, buku langsung diberikan ketika kami ke Bandung. Dari bantuan Femina Group kami mendapat 100 buah buku, terdiri dari buku memasak, buku anak, buku novel, dll. Senangnya perasaan kami sebagai pengelola, banyak orang baik dan lembaga/perusahaan yang peduli terhadap kegiatan taman baca. 

Tulisan ini sebagai rasa terima kasih kami kepada Femina Group yang telah memberikan donasi buku kepada kami. Rumah Baca Bambu Biru selalu berusaha berhubungan baik kepada siapa saja dan mengembangkan jalinan persahabatan baik kepada individu dan perusahaan. Semoga yang telah diberikan oleh Femina Group adalah bagian langkah besar demi meningkatkan minat baca adik-adik/ anak-anak di sekitar lokasi Rumah Baca Bambu Biru.

Sekali lagi terima kasih atas Bantuannya.
Salam Bahagia dan Berkawan dari Kami

Pibsa Zulfa
Ketua Pengelola Rumah Baca Bambu Biru

Selasa, 03 Mei 2016

Catatan Hari Pendidikan Nasional dari Rumah Baca Bambu Biru



RUmah Baca Bambu Biru

Baru sehari lalu, tanggal 2 Mei 2016 kita merayakan kembali hari pendidikan nasional. Segenap warga negara Indonesia sepatutnya ikut merayakannya dan turut merasakan kalau pendidikan memang dibutuhkan bagi segenap warga negara di negeri tercinta ini. Namun, kita juga harus menerima kenyataan kalau sarana pendidikan tidak diberikan secara adil ke seluruh penjuru negeri dan faktanya pula negara belum bisa menyanggupi pendidikan yang merata bagi kaum terpinggirkan, warga kampung, warga miskin yang sangat jauh dari kemegahan kota. 
Tetapi kenyataan tersebut tidaklah membuat kita patah hati karena tidak diperhatikannya kita. Bukan pula negara tak cinta sama warga negaranya. Hanya saja negara tampaknya membutuhkan tangan-tangan kita, tangan komunitas yang mampu bergerak mengatasi masalah pendidikan di pelosok dan penjuru negeri dengan caranya sendiri.


Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan

Atas dasar itulah, mari kita rayakan hari pendidikan nasional dengan cara kita sendiri. Kalau negara tidak bisa memberikan buku kepada kita, kita cari sendiri. Kalau negara tidak bisa menyediakan alat tulis untuk anak-anak kita, kita upayakan sendiri, kalau negara tak sempat melihat apa yang kita lakukan, kita tunjukkan untuk kita sendiri kalau kita bisa berbuat banyak untuk mendukung kemajuan pendidikan di kampung kita. Salah satu caranya mendirikan rumah baca sebisa mungkin di lingkungan tempat tinggal kita.


sumbangan buku

iangatlah kata Pak Menteri Anies Baswadan dalam pidatonya merayakan Hari Pendidikan nasional Tahun 2016, bahwa Literasi menjadi komponen dasar kemampuan abad 21. Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Kita buktikan kita mampu mewujudkan budaya literasi dan menyedakan pendukung sarana pendidikan di kampung kita.
Kami melakukannya di Kampung Cibiru, Desa Cicantayan, Kab. Sukabumi.
Salam Literasi
RumahBaca Bambu Biru
Catatan ini ditulis di Facebook Rumah Baca Bambu Biru

Minggu, 01 Mei 2016

Pendidikan untuk Kehidupan yang Lebih Baik



Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.

Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.
Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.
Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!

Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.
Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.

Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.
Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.

Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.
Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!
Salam,
Anies Baswedan

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar
SAHABAT KELUARGA – Mental anak perlu dipersiapkan sebelum dia masuk ke sekolah. Apa saja langkahnya?
Pertama, sering-seringlah mengajak anak berkunjung ke lingkungan di luar rumah. Tujuannya agar anak terbiasa dengan lingkungan yang ada, misalnya diajak ke pasar, warung atau ke tetangga sekitar.
”Dorong anak Anda berkenalan dan minta ia memerhatikan kegiatan yang sedang dilakukan di pasar atau warung,” kata psikolog anak, Puji Lestari Prianto, M.Psi, seperti dikutip dari modul PAUD, Kemdikbud.
Kedua, perbanyak komunikasi dengan anak. Misalnya, tanya tentang kegiatan selama satu hari. Hargailah setiap jawaban anak. Hindari pertanyaan yang diajukan bertubi-tubi, karena akan membuat anak kesal dan akhirnya tidak mau bercerita.
Ketiga, berkunjunglah ke sekolah dasar (SD) dekat rumah atau SD yang akan dituju kelak. Berkenalanlah dengan guru-guru di sana. Hal ini berguna, agar anak tidak malu dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Keempat, ajak anak menyalurkan kegiatan fisik secara terarah, seperti berlari, memanjat pohon, atau meniti trotoar di pinggir jalan. Kelima, perbanyak kegiatan yang menunjang perkembangan motorik halus, seperti bermain tanah liat, membuat tulisan di atas pasir atau tepung dengan menggunakan jari tangan, membantu ibu memeras santan dan lain sebagainya.
Jangan lupa, tanamkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak. ”Misalnya, selesai makan, mintalah agar anak langsung membawa piring  ke dapur, atau mintalah ia membereskan mainan setiap kali selesai bermain,” kata Puji.
Pada awalnya, ibu dan ayah memberi contoh, kemudian mereka melakukan bersama anak, selanjutnya biarkan anak melakukan sendiri. ”Sehingga lama kelamaan, anak akan terbiasa dan tidak selalu minta tolong ibu dan ayah maupun orang dewasa lainnya,” kata Puji.  
Keenam, ciptakan kondisi belajar sambil bermain, sehingga anak berpendapat bahwa belajar itu menyenangkan. Ketujuh, hargai setiap karya anak. Ungkapan pujian untuk anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
Hindari sikap menyalahkan, karena hal itu akan mengecilkan hati anak dan membuat anak tidak merasa dihargai hasil karyanya, sehingga anak ogah berkarya lagi.
Kedelapan, cobalah selalu menjawab setiap pertanyaan anak. Jika ibu dan ayah tidak tahu, katakanlah secara terus terang dan segera mencari jawabannya. 
Terakhir, ayah ibu boleh memperkenalkan anak dengan kegiatan menulis, membaca dan berhitung untuk membantu perkembangan kemampuan dasar anak. Lakukan kegiatan tersebut secara menyenangkan dan sambil bermain. *
Hal-hal yang Harus Dihindari:
  1. Memaksa anak belajar menulis, membaca, atau berhitung di saat anak belum siap.
  2. Menuntut terlalu tinggi pada anak. Misalnya, anak harus bisa menulis dengan rapi, sehingga jika terjadi kesalahan, anak harus menghapus dan mengulangnya kembali sampai betul.
  3. Menyempurnakan hasil karya anak, karena ayah dan ibu tidak puas dengan hasil karya anak. Cara ini sungguh tidak bijak, karena dapat membuat anak menjadi kecil hati. *Bunga Kusuma Dewi
Sumber :  http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2989http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2989

Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (2)



Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (2)
SAHABAT KELUARGA – Kegemaran mencoret anak bisa menimbulkan masalah, ketika anak mulai menuangkan coretannya tersebut pada dinding rumah. Bagaimana orang tua harus bersikap? Menurut psikolog anak, Agustina Hendriati, Msc, Psi, ada beberapa catatan dari kegiatan anak mencoret di dinding.
Jika orang tua marah dengan aktivitas anak tersebut, dampaknya anak nantinya menjadi pribadi yang tidak ekspresif, suka merasa bersalah dan takut untuk berinisiatif. Sementara, jika dibiarkan mencoret di mana saja, hal tersebut bisa membuat anak nantinya menjadi pribadi yang permisif (serba boleh).
Idealnya, orang tua menyediakan tempat untuk anak menyalurkan kegemaran mencoret sebebas mungkin.
Beberapa hal perlu diperhatikan orang tua, bila anak memiliki kegemaran mencoret, antara lain, pertama, anak belum bisa membedakan tempat yang boleh dan tak boleh dipakai untuk mencoret. Sehingga, wajar jika anak kerap mencoba menggoreskan alat tulisnya ke dinding.
Untuk memfasilitasinya, pilihlah satu ruangan atau dinding di rumah yang boleh dijadikan media mencoret. Ruangan tersebut mungkin saja berada di belakang rumah, sehingga tidak menganggu keindahan rumah. Jika tidak memungkinkan, tempelkan kertas buram di dinding atau lapisi tembok dengan kertas, sehingga anak menggunakan media kertas tersebut untuk mencoret dan dinding aman dari coretan.
Kedua, berikan penjelasan secara rinci tempat yang boleh dan tak boleh dipakai untuk mencoret. Misalnya, “Adik mencoretnya di kertas atau papan tulis saja ya. Kalau di dinding ruang tamu, nanti kotor, kan malu kalau ada tamu.” Penjelasan seperti ini dilakukan setiap kali anak ingin melakukan aktvitasnya. Lambat laun, anak akan tahu tempat untuk mencoret.
Ketiga, pilihlah alat tulis yang aman untuk anak, karena di usia lima tahun ke bawah,  anak masih suka memasukkan benda yang dia pegang ke dalam mulutnya. *Bunga Kusuma

Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (1)



Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (1)
SAHABAT KELUARGA – Anak Anda gemar membuat coret-coret? Biarkan aktivitas itu. Mencoret merupakan bagian dari perkembangan normal menuju penghalusan kemampuan motorik halus yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan (sensomotorik).
Setiap anak memiliki prosesnya sendiri-sendiri. Kegiatan mencoret juga bisa menjadi petunjuk awal minat dan bakat menggambar atau melukis. Aktivitas ini mungkin tidak muncul pada setiap anak. 
Kegemaran mencoret mulai muncul sejak anak berusia 1,5 tahun atau ketika sudah bisa mulai memegang alat tulis dan menorehkannya pada sebuah medium seperti kertas atau lainnya.
Kegiatan itu berkembang saat anak berusia 2-4 tahun, meskipun bentuk coretannya belum bermakna apapun.
Mulai usia 4 tahun, kemampuan sensomotorik anak mulai berkembang, sehingga anak sudah lebih mampu membuat bentuk, dan orang dewasa memaknainya sebagai ‘menggambar’.
Kegemaran mencoret pada anak tidak menimbukan dampak apapun, kecuali menghabiskan berlembar-lembar kertas atau alat tulis.
Kegiatan mencoret pada anak memiliki manfaat, antara lain, pertama, melatih motorik. Tidak hanya lengan, kegiatan mencoret pun melibatkan pergerakan pergelangan tangan dan jari jemari. Dengan begitu, selain motorik kasar, motorik halus pun ikut dilatih.
Kedua, melatih kreativitas dan imajinasi. Lewat mencoret, anak dapat menuangkan apa yang ada di pikirannya, sehingga daya kreatifitasnya semakin tergali.
Ketiga, bereksplorasi tanpa batasan. Dengan diberikan kebebasan untuk mencoret, anak akan merasa bahwa ia bebas melakukan apa yang diinginkannya tanpa harus takut dimarahi. Keempat, mengasah cita rasa seni. Kemampuan seni yang terpendam bisa digali lewat aktivitas mencoret ini. *Bunga Kusuma