Senangnya Dapat Donasi dari FeminaGroup

Awalnya kami mengirimkan email ke salah satu pegawai di Femina Group 'bagaimana caranya bisa mendapatkan bantuan donasi.' Alhamdulillah ditanggapi dengan baik oleh pihak Femina Group.

Profil Rumah Baca Cibiru

Taman baca diharapkan mampu menyediakan sumber-sumber pengetahuan bagi anak-anak usia sekolah. Selain itu, taman baca Bambu Biru dapat meningkatkan minat baca masyarakat secara umum.

Inilah Donatur Rumah Baca Bambu Biru

Donasi Rumah Baca Bambu Biru diperoleh dari berbagai bantuan, baik dari rekanan rumah baca, lembaga, maupun donasi individu. Berikut adalah pemberi donasi Bambu Biru.

Berbagi Buku, Berbagi Cerita

Rumah Baca, bagi saya adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat untuk mendapatkan hak merengkuh pengetahuan.

Bakiak di Kampung Egrang

Kawan, tahukah kamu permainan tradisional bakiak? Apa enggak tahu? Ya Bakiak mungkin sudah jarang dimainkan pada era sekarang.

Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2016

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar
SAHABAT KELUARGA – Mental anak perlu dipersiapkan sebelum dia masuk ke sekolah. Apa saja langkahnya?
Pertama, sering-seringlah mengajak anak berkunjung ke lingkungan di luar rumah. Tujuannya agar anak terbiasa dengan lingkungan yang ada, misalnya diajak ke pasar, warung atau ke tetangga sekitar.
”Dorong anak Anda berkenalan dan minta ia memerhatikan kegiatan yang sedang dilakukan di pasar atau warung,” kata psikolog anak, Puji Lestari Prianto, M.Psi, seperti dikutip dari modul PAUD, Kemdikbud.
Kedua, perbanyak komunikasi dengan anak. Misalnya, tanya tentang kegiatan selama satu hari. Hargailah setiap jawaban anak. Hindari pertanyaan yang diajukan bertubi-tubi, karena akan membuat anak kesal dan akhirnya tidak mau bercerita.
Ketiga, berkunjunglah ke sekolah dasar (SD) dekat rumah atau SD yang akan dituju kelak. Berkenalanlah dengan guru-guru di sana. Hal ini berguna, agar anak tidak malu dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Keempat, ajak anak menyalurkan kegiatan fisik secara terarah, seperti berlari, memanjat pohon, atau meniti trotoar di pinggir jalan. Kelima, perbanyak kegiatan yang menunjang perkembangan motorik halus, seperti bermain tanah liat, membuat tulisan di atas pasir atau tepung dengan menggunakan jari tangan, membantu ibu memeras santan dan lain sebagainya.
Jangan lupa, tanamkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak. ”Misalnya, selesai makan, mintalah agar anak langsung membawa piring  ke dapur, atau mintalah ia membereskan mainan setiap kali selesai bermain,” kata Puji.
Pada awalnya, ibu dan ayah memberi contoh, kemudian mereka melakukan bersama anak, selanjutnya biarkan anak melakukan sendiri. ”Sehingga lama kelamaan, anak akan terbiasa dan tidak selalu minta tolong ibu dan ayah maupun orang dewasa lainnya,” kata Puji.  
Keenam, ciptakan kondisi belajar sambil bermain, sehingga anak berpendapat bahwa belajar itu menyenangkan. Ketujuh, hargai setiap karya anak. Ungkapan pujian untuk anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
Hindari sikap menyalahkan, karena hal itu akan mengecilkan hati anak dan membuat anak tidak merasa dihargai hasil karyanya, sehingga anak ogah berkarya lagi.
Kedelapan, cobalah selalu menjawab setiap pertanyaan anak. Jika ibu dan ayah tidak tahu, katakanlah secara terus terang dan segera mencari jawabannya. 
Terakhir, ayah ibu boleh memperkenalkan anak dengan kegiatan menulis, membaca dan berhitung untuk membantu perkembangan kemampuan dasar anak. Lakukan kegiatan tersebut secara menyenangkan dan sambil bermain. *
Hal-hal yang Harus Dihindari:
  1. Memaksa anak belajar menulis, membaca, atau berhitung di saat anak belum siap.
  2. Menuntut terlalu tinggi pada anak. Misalnya, anak harus bisa menulis dengan rapi, sehingga jika terjadi kesalahan, anak harus menghapus dan mengulangnya kembali sampai betul.
  3. Menyempurnakan hasil karya anak, karena ayah dan ibu tidak puas dengan hasil karya anak. Cara ini sungguh tidak bijak, karena dapat membuat anak menjadi kecil hati. *Bunga Kusuma Dewi
Sumber :  http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2989http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2989

Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (2)



Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (2)
SAHABAT KELUARGA – Kegemaran mencoret anak bisa menimbulkan masalah, ketika anak mulai menuangkan coretannya tersebut pada dinding rumah. Bagaimana orang tua harus bersikap? Menurut psikolog anak, Agustina Hendriati, Msc, Psi, ada beberapa catatan dari kegiatan anak mencoret di dinding.
Jika orang tua marah dengan aktivitas anak tersebut, dampaknya anak nantinya menjadi pribadi yang tidak ekspresif, suka merasa bersalah dan takut untuk berinisiatif. Sementara, jika dibiarkan mencoret di mana saja, hal tersebut bisa membuat anak nantinya menjadi pribadi yang permisif (serba boleh).
Idealnya, orang tua menyediakan tempat untuk anak menyalurkan kegemaran mencoret sebebas mungkin.
Beberapa hal perlu diperhatikan orang tua, bila anak memiliki kegemaran mencoret, antara lain, pertama, anak belum bisa membedakan tempat yang boleh dan tak boleh dipakai untuk mencoret. Sehingga, wajar jika anak kerap mencoba menggoreskan alat tulisnya ke dinding.
Untuk memfasilitasinya, pilihlah satu ruangan atau dinding di rumah yang boleh dijadikan media mencoret. Ruangan tersebut mungkin saja berada di belakang rumah, sehingga tidak menganggu keindahan rumah. Jika tidak memungkinkan, tempelkan kertas buram di dinding atau lapisi tembok dengan kertas, sehingga anak menggunakan media kertas tersebut untuk mencoret dan dinding aman dari coretan.
Kedua, berikan penjelasan secara rinci tempat yang boleh dan tak boleh dipakai untuk mencoret. Misalnya, “Adik mencoretnya di kertas atau papan tulis saja ya. Kalau di dinding ruang tamu, nanti kotor, kan malu kalau ada tamu.” Penjelasan seperti ini dilakukan setiap kali anak ingin melakukan aktvitasnya. Lambat laun, anak akan tahu tempat untuk mencoret.
Ketiga, pilihlah alat tulis yang aman untuk anak, karena di usia lima tahun ke bawah,  anak masih suka memasukkan benda yang dia pegang ke dalam mulutnya. *Bunga Kusuma

Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (1)



Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret (1)
SAHABAT KELUARGA – Anak Anda gemar membuat coret-coret? Biarkan aktivitas itu. Mencoret merupakan bagian dari perkembangan normal menuju penghalusan kemampuan motorik halus yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan (sensomotorik).
Setiap anak memiliki prosesnya sendiri-sendiri. Kegiatan mencoret juga bisa menjadi petunjuk awal minat dan bakat menggambar atau melukis. Aktivitas ini mungkin tidak muncul pada setiap anak. 
Kegemaran mencoret mulai muncul sejak anak berusia 1,5 tahun atau ketika sudah bisa mulai memegang alat tulis dan menorehkannya pada sebuah medium seperti kertas atau lainnya.
Kegiatan itu berkembang saat anak berusia 2-4 tahun, meskipun bentuk coretannya belum bermakna apapun.
Mulai usia 4 tahun, kemampuan sensomotorik anak mulai berkembang, sehingga anak sudah lebih mampu membuat bentuk, dan orang dewasa memaknainya sebagai ‘menggambar’.
Kegemaran mencoret pada anak tidak menimbukan dampak apapun, kecuali menghabiskan berlembar-lembar kertas atau alat tulis.
Kegiatan mencoret pada anak memiliki manfaat, antara lain, pertama, melatih motorik. Tidak hanya lengan, kegiatan mencoret pun melibatkan pergerakan pergelangan tangan dan jari jemari. Dengan begitu, selain motorik kasar, motorik halus pun ikut dilatih.
Kedua, melatih kreativitas dan imajinasi. Lewat mencoret, anak dapat menuangkan apa yang ada di pikirannya, sehingga daya kreatifitasnya semakin tergali.
Ketiga, bereksplorasi tanpa batasan. Dengan diberikan kebebasan untuk mencoret, anak akan merasa bahwa ia bebas melakukan apa yang diinginkannya tanpa harus takut dimarahi. Keempat, mengasah cita rasa seni. Kemampuan seni yang terpendam bisa digali lewat aktivitas mencoret ini. *Bunga Kusuma