Senangnya Dapat Donasi dari FeminaGroup

Awalnya kami mengirimkan email ke salah satu pegawai di Femina Group 'bagaimana caranya bisa mendapatkan bantuan donasi.' Alhamdulillah ditanggapi dengan baik oleh pihak Femina Group.

Profil Rumah Baca Cibiru

Taman baca diharapkan mampu menyediakan sumber-sumber pengetahuan bagi anak-anak usia sekolah. Selain itu, taman baca Bambu Biru dapat meningkatkan minat baca masyarakat secara umum.

Inilah Donatur Rumah Baca Bambu Biru

Donasi Rumah Baca Bambu Biru diperoleh dari berbagai bantuan, baik dari rekanan rumah baca, lembaga, maupun donasi individu. Berikut adalah pemberi donasi Bambu Biru.

Berbagi Buku, Berbagi Cerita

Rumah Baca, bagi saya adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat untuk mendapatkan hak merengkuh pengetahuan.

Bakiak di Kampung Egrang

Kawan, tahukah kamu permainan tradisional bakiak? Apa enggak tahu? Ya Bakiak mungkin sudah jarang dimainkan pada era sekarang.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2016

Efek Samping Rumah Baca Bambu Biroe Kampung Cibiru, Desa Cicantayan

Membaca Menjadi Bagian Keseharian Anak-Anak
Sejak Januari 2016, Kang Pibsa memperkirakan waktu berdirinya Rumah Baca Bambu Biroe. Jumlah bukunya hanya sekitar 150 buah yang diletakkan di sebuah rak di depan rumahnya. Bulan pertama didirikan, hanya segelintir anak-anak yang mau singgah untuk membaca. Kebanyakan anak-anak memilih bermain saja. Meski begitu, dari sedikit anak yang berkunjung tersebut, ternyata berhasil menarik anak-anak lainnya untuk berkunjung. Mereka mulai menjamah buku, membuka beberapa lembar dan diletakkan kembali ke raknya. Entah dibaca atau tidak, yang penting lembar demi lembar halaman buku telah dilihat-lihat terutama buku yang bergambar.
Adik-adik Membaca ketika Istirahat Sekolah

Dari situlah terlihat, buku ternyata memiliki ‘medan magnet’ bagi anak-anak. Secara perlahan-lahan semakin banyak anak yang berkunjung ke Rumah Baca Bambu Biroe. Melihat semangat anak-anak tersebut, Kang Pibsa mulai mencari buku dari berbagai sumber. Gayung bersambut, banyak teman-temannya yang menyumbangkan buku, baik itu teman dari rumah baca, teman tempatnya berkerja ataupun dari teman yang baru kenalnya. Mereka menyumbangkan buku dengan jumlah yang beragam, dari yang ratusan, puluhan, dan ada juga yang satuan. “Kami menerima bukunya dengan senang hati, kata Kang Pibsa.
Donasi dari Teman Teman Relawan Rumah Baca

Seiring bertambahnya buku, bertambah pula pengunjungnya. Anak-anak semakin ramai dan semakin gemar membaca. Setelah dua-tiga bulan berjalan, anak-anak dari sekolah madrasah yang lokasinya tepat di depan rumah, menjadikan rumah baca bak perpustakaan sekolah. Sebelum masuk sekolah, ada saja anak yang berkunjung. Waktu istirahat mereka bermain sambil memegang buku di depan rumah baca. Selepas pulang sekolah apalagi, anak-anak kian ramai datang untuk membaca dari buku komik, dongeng, hingga buku pelajaran sekolah.
Istirahat Sekolah itu Waktunya Membaca

Kang Pibsa mendirikan rumah baca dengan alasan yang sangat kuat, dia menyadari betapa  rendahnya akses terhadap sarana pendukung untuk memperoleh pengetahuan bagi anak-anak usia sekolah, seperti buku, alat tulis, dan alat peraga, di Kampungnya. “Saya berharap madrasah atau sekolah di kampung saya memiliki perpustakaan seperti di kota, “katanya sewaktu ngobrol santai di depan rumahnya. Apa yang dibicarakan tentu saja menjadi kabar baik untuk penunjang sarana pendidikan.
Kamu Membaca dan Kami Main Congklak

Agar suasana rumah baca semakin riang gembira, Kang Pibsa tak hanya menyediakan buku. Dia mulai membeli alat bermain seperti congklak. Jadilah sambil membaca, anak juga bermain congklak. Oh ya, ada permainan lain yang sangat ngetop di Kampung Cibiru, Desa Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini, yaitu permainan egrang. Permainan ini biasanya dimainkan anak-anak di sekitar kampung. Bagi anak-anak permianan ini sangat mudah dimainkan, tinggal diinjak, menjaga keseimbangan, setelah itu mereka bisa berjalan, dan berlari. Ya, berjalan dan berlari di atas egrang.
Kegiatan membaca dan bermain bisa seiring jalan, anak-anak tampak semakin senang selepas membaca, mereka bisa bermain bersama teman-teman. Lalu apa efek samping dari rumah baca ini?

Membaca Santai Hingga Sore Hari
Rumah Baca Bambu Biru, hingga Agustus 2016, jumlah buku yang dimiliki buku 1000 biji lebih sedikit. Tentu jumlahnya akan terus bertambah, dengan semakin banyak orang baik yang menyumbangkan buku. Dari semakin banyaknya jumlah buku di Rumah Baca Bambu Biroe inilah yang memberi efek samping bagi anak-anak.
Buku Membuat Lupa Waktu

Anak-anak membaca buku tanpa disuruh dan datang sendiri ke Rumah Baca Bambu Biroe. Dunia literasi adalah dunia yang menyenangkan ketika adik-adik menemukan caranya sendiri untuk terus membaca buku. Mereka datang tak dipanggil, pulangnya bisa sampai sore. Seringkali beberapa anak, duduk santai selepas Ashar menjamah buku dan hanyut dalam bacaannya. Hingga magrib menjelang, dan azan akan tiba barulah diingatkan untuk pulang ke rumah.
Adanya rumah baca ini mengisi kekosongan sarana pendukung sekolah berupa perpustakaan. Tak ada perpustakaan, tetapi anak-anak sudah memiliki pilihan tempat untuk membaca buku, ya di Rumah Baca Bambu Biroe.
Tumbuh Bersama Menjulang Ke Langit

Kampung Cibiru, Kampung Tempat Anak-Anak Terbiasa Bermain Egrang
RumahBaca Bambu Biru tak bisa telah menjadi bagian dari dunia anak-anak di Kampung Cibiru. Dunia bermain yang asyik dan gembira. Nah, efek samping lainnya dari berdirinya rumah baca adalah semakin populernya permainan egrang. Permainan egrang menjadi bagian permainan kekinian, melewati batas penamaan permainan tradisional yang dianggap usang.
Asiknya Bermain Egrang

Kebetulan sekali, Kampung Cibiru sebagai kampung yang dihadiahi oleh Tuhan dengan ditumbuhi banyak pohon bambu. Jadilah, egrang dapat dibikin kapan saja, ketika ada orang yang ingin membeli. Kampung Cibiru mulai menjadi sentra produksi alat permainan egrang. “Orang-orang mulai banyak memesan egrang dari kampung kami.” Begitu menurut pengakuan Kang Pibsa dan egrang tersebut dibuat oleh warga lokal.
Pembuat Egrang dari Warga Lokal

Permainan egrang ternyata telah berdampak luas, misal sudah ada Egrang Sukabumi - Korang Bumi yang mengenalkan permainan tradisional di Sukabumi. Rumah Baca Bambu Biroe berharap egrang yang merupakan inovasi daerah tak berwujud permainan lokal semata, namun sebagai produk permainan yang harus bisa dimainkan dimana saja dan oleh siapa saja. Jadi, kegiatan RumahBaca Bambu Biru telah berdampak luas dengan menghidupkan usaha warga sekitar dengan membuat egrang.
Lomba Permainan Egrang di Kampung Cibiru

Kampung Cibiru tampaknya tidak mau tertidur dalam kondisi yang tertinggal. Ada sosok seperti Kang Pibsa yang ingin membuat kampungnya semakin maju dengan pendekatan dunia pendidikan dengan menyedian rumah baca. Rumah Baca Bambu Biroe ternyata bisa menarik hati anak-anak untuk datang sendiri dan semakin rajin membaca. Mereka mulai mengenal buku dengan caranya sendiri. Satu lagi yang menarik tentu saja, rumah baca memiliki dampak lain, permainan egrang bisa berdampak keuntungan ekonomi. Rumah Baca Bambu Biroe mulai bisa memperoleh penghasilan sendiri dari egrang yang mereka buat. Semoga saja Rumah Baca ini semakin bermanfaat demi kemajuan anak-anak dan untukIndonesia yang semakin cerdas.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Selasa, 03 Mei 2016

Catatan Hari Pendidikan Nasional dari Rumah Baca Bambu Biru



RUmah Baca Bambu Biru

Baru sehari lalu, tanggal 2 Mei 2016 kita merayakan kembali hari pendidikan nasional. Segenap warga negara Indonesia sepatutnya ikut merayakannya dan turut merasakan kalau pendidikan memang dibutuhkan bagi segenap warga negara di negeri tercinta ini. Namun, kita juga harus menerima kenyataan kalau sarana pendidikan tidak diberikan secara adil ke seluruh penjuru negeri dan faktanya pula negara belum bisa menyanggupi pendidikan yang merata bagi kaum terpinggirkan, warga kampung, warga miskin yang sangat jauh dari kemegahan kota. 
Tetapi kenyataan tersebut tidaklah membuat kita patah hati karena tidak diperhatikannya kita. Bukan pula negara tak cinta sama warga negaranya. Hanya saja negara tampaknya membutuhkan tangan-tangan kita, tangan komunitas yang mampu bergerak mengatasi masalah pendidikan di pelosok dan penjuru negeri dengan caranya sendiri.


Persentase Sekolah yang Memiliki Perpustakaan

Atas dasar itulah, mari kita rayakan hari pendidikan nasional dengan cara kita sendiri. Kalau negara tidak bisa memberikan buku kepada kita, kita cari sendiri. Kalau negara tidak bisa menyediakan alat tulis untuk anak-anak kita, kita upayakan sendiri, kalau negara tak sempat melihat apa yang kita lakukan, kita tunjukkan untuk kita sendiri kalau kita bisa berbuat banyak untuk mendukung kemajuan pendidikan di kampung kita. Salah satu caranya mendirikan rumah baca sebisa mungkin di lingkungan tempat tinggal kita.


sumbangan buku

iangatlah kata Pak Menteri Anies Baswadan dalam pidatonya merayakan Hari Pendidikan nasional Tahun 2016, bahwa Literasi menjadi komponen dasar kemampuan abad 21. Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Kita buktikan kita mampu mewujudkan budaya literasi dan menyedakan pendukung sarana pendidikan di kampung kita.
Kami melakukannya di Kampung Cibiru, Desa Cicantayan, Kab. Sukabumi.
Salam Literasi
RumahBaca Bambu Biru
Catatan ini ditulis di Facebook Rumah Baca Bambu Biru

Minggu, 01 Mei 2016

Pendidikan untuk Kehidupan yang Lebih Baik



Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.

Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.
Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.
Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!

Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.
Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.

Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.
Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.

Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.
Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!
Salam,
Anies Baswedan

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar
SAHABAT KELUARGA – Mental anak perlu dipersiapkan sebelum dia masuk ke sekolah. Apa saja langkahnya?
Pertama, sering-seringlah mengajak anak berkunjung ke lingkungan di luar rumah. Tujuannya agar anak terbiasa dengan lingkungan yang ada, misalnya diajak ke pasar, warung atau ke tetangga sekitar.
”Dorong anak Anda berkenalan dan minta ia memerhatikan kegiatan yang sedang dilakukan di pasar atau warung,” kata psikolog anak, Puji Lestari Prianto, M.Psi, seperti dikutip dari modul PAUD, Kemdikbud.
Kedua, perbanyak komunikasi dengan anak. Misalnya, tanya tentang kegiatan selama satu hari. Hargailah setiap jawaban anak. Hindari pertanyaan yang diajukan bertubi-tubi, karena akan membuat anak kesal dan akhirnya tidak mau bercerita.
Ketiga, berkunjunglah ke sekolah dasar (SD) dekat rumah atau SD yang akan dituju kelak. Berkenalanlah dengan guru-guru di sana. Hal ini berguna, agar anak tidak malu dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Keempat, ajak anak menyalurkan kegiatan fisik secara terarah, seperti berlari, memanjat pohon, atau meniti trotoar di pinggir jalan. Kelima, perbanyak kegiatan yang menunjang perkembangan motorik halus, seperti bermain tanah liat, membuat tulisan di atas pasir atau tepung dengan menggunakan jari tangan, membantu ibu memeras santan dan lain sebagainya.
Jangan lupa, tanamkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak. ”Misalnya, selesai makan, mintalah agar anak langsung membawa piring  ke dapur, atau mintalah ia membereskan mainan setiap kali selesai bermain,” kata Puji.
Pada awalnya, ibu dan ayah memberi contoh, kemudian mereka melakukan bersama anak, selanjutnya biarkan anak melakukan sendiri. ”Sehingga lama kelamaan, anak akan terbiasa dan tidak selalu minta tolong ibu dan ayah maupun orang dewasa lainnya,” kata Puji.  
Keenam, ciptakan kondisi belajar sambil bermain, sehingga anak berpendapat bahwa belajar itu menyenangkan. Ketujuh, hargai setiap karya anak. Ungkapan pujian untuk anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
Hindari sikap menyalahkan, karena hal itu akan mengecilkan hati anak dan membuat anak tidak merasa dihargai hasil karyanya, sehingga anak ogah berkarya lagi.
Kedelapan, cobalah selalu menjawab setiap pertanyaan anak. Jika ibu dan ayah tidak tahu, katakanlah secara terus terang dan segera mencari jawabannya. 
Terakhir, ayah ibu boleh memperkenalkan anak dengan kegiatan menulis, membaca dan berhitung untuk membantu perkembangan kemampuan dasar anak. Lakukan kegiatan tersebut secara menyenangkan dan sambil bermain. *
Hal-hal yang Harus Dihindari:
  1. Memaksa anak belajar menulis, membaca, atau berhitung di saat anak belum siap.
  2. Menuntut terlalu tinggi pada anak. Misalnya, anak harus bisa menulis dengan rapi, sehingga jika terjadi kesalahan, anak harus menghapus dan mengulangnya kembali sampai betul.
  3. Menyempurnakan hasil karya anak, karena ayah dan ibu tidak puas dengan hasil karya anak. Cara ini sungguh tidak bijak, karena dapat membuat anak menjadi kecil hati. *Bunga Kusuma Dewi
Sumber :  http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2989http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2989

Jumat, 29 April 2016

Berbagi Buku, Berbagi Cerita



Donasi Buku Rumah Baca Bambu Biru

Buku, semua diawali dari jendela pengetahuan ini. Saya hanya ingin bercerita sedikit saja. Setelah beberapa bulan terlibat untuk mencari donasi buku untuk taman baca bernama Rumah Baca Bambu Biru di Sukabumi, Akhirnya saya ketahui banyak sekali orang yang peduli terhadap dunia pendidikan, salah satunya ketersediaan buku untuk masyarakat, khususunya untuk anak-anak. Bayangkan saja, ada ratusan buku 'baru' menjadi koleksi teranyar di Rumah baca Bambu Biru. Semua adalah donasi, pemberian dari orang baik di luar sana. Langkah para donatur yang menyumbangkan buku ini merupakan langkah besar bagi mereka yang kesulitan membeli atau pun mengakses buku. Kalau tadinya buku begitu sulit diperoleh, kini sudah tersedia ratusan judul buku di Rumah Baca Bambu Biru.


Kegiatan Lomba Menggambar

Saya percaya dan tetap yakin begitu banyak orang baik di luar sana yang memiliki jiwa dermawan, mereka para penderma yang tangannya sangat ringan untuk membantu. Wahai kompasianer yang budiman. Tulisan ini saya buat untuk rasa terima kasih terhingga, walau saya tahu, sebagian penderma buku itu tak mengharap umpan balik terima kasih ini. Tetapi kebaikan harus berbalas kebaikan. Bagaimana pun dari buku-buku tersebut saya dapat berbagi cerita tentang kebaikan.


Membaca Buku Bersama

Rumah Baca, bagi saya adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat untuk mendapatkan hak merengkuh pengetahuan. Kenapa memudahkan? Karena rumah baca tersebut berada di lingkungkan tempat tinggal mereka, dikampung dimana mereka bisa berbaur, menjalani hidup dan berbagi rasa. Kalau rasa bisa dibagi, kenapa tidak dengan buku? Ya, penderma buku untuk Taman Baca Bambu Biru telah melakukannya. 


Serah-Terima Buku

Sekian, salam literasi dari Kampung Cibiru, Desa Cicantayan Sukabumi

Salam Phadli
Pengelola Blog Taman Baca Bambu Biroe

Senin, 04 April 2016

Tentang Buku yang Tak Dibaca



Saya senang mengumpulkan buku, tetapi jujur saja tak begitu sering membacanya. Sebagian besar buku teronggok dirak dan sebagian lagi saya simpan rapih di dalam lemari. Kalau sudah begitu jadilah buku-buku tersebut tak menjadi jendela dunia, wong jarang disentuh. Sejak kuliah saya mengumpulkan satu per satu buku tersebut, dari karya besar peneliti antropologi, penulis besar sekaliber Promoedya Ananta Toer, penulis secantik Ayu Utami, Dan Brown pun saya punya. Banyak judul buku yang sudah terkumpul.
Kebiasaan itu masih berlangsung sampai sekarang. Setelah menikah buku semakin banyak. Rak tak cukup lagi, hingga lemari baju pun menjadi lemari buku. Suatu kali teman yang berkunjung ke rumah bertanya, “untuk apa buku sebanyak itu lo simpan?” Saya jawab sekenanya saja, “Untuk anak, biar dia punya perpustakaan sendiri.”Saya puas, mengumpulnya meski buku-buku itu tetap tampak baru, jarang dibaca.
Hingga, saya dihadapkan pada sebuah kenyataan. Suatu kali saya menerima pekerjaan untuk melakukan penelitian singkat di Sebuah Desa di Sulawesi Selatan. Penelitiannya berkaitan dengan pendidikan. Dari penelitian itu mata saya seolah dibuka lebar-lebar oleh fakta masih begitu banyak orang yang buta huruf, dari anak kecil hingga orang dewasa. Bahkan orang-orang yang seumuran saya, usianya masih sekitar 28 – 40 tahun tidak bisa membaca, terutama kaum perempuannya. 
Penelitian tersebut membuat isi kepala saya sebagai orang yang dijejali isu tentang pendidikan seolah lumpuh. Kenyataan pendidikan yang sebenarnya ternyata begitu pahit. Dari masalah sekolah yang jaraknya jauh dari permukiman warga, ketidakmampuan membeli seragam, dan masalah rendahnya ketersediaan buku di sana.
Masalah ketersediaan buku ini menjadi benang merah dalam tulisan saya ini. Dari penelitian singkat tersebut saya mulai berpikir. Sebagai salah seorang yang beruntung bisa mengumpulkan buku, saya menyadari begitu banyak anak-anak di luar sana yang tak mampu membeli dan tak memiliki buku dengan mudah. Sementara saya bisa mengumpulkan buku tetapi jarang membacanya. Dunia serasa tak adil dan lucunya saya sendiri menciptakan ketidakadilan itu sendiri. Tak adil antara si mampu pembeli buku dan bagi mereka yang tak memiliki buku.

Berlaku Adil Dari Bukumu
Terngiang-ngiang terus dipikiran saya, “apa yang bisa aku lakukan?” Syukurnya, pertanyaan itu terjawab dituntun oleh nasib baik. Kami sekeluarga berpindah ke Sukabumi karena perihal pekerjaan. Di Sukabumi, saya menemukan pemuda-pemuda pejuang literasi. Istri saya mengenalkan salah seorang dari mereka. Lalu bergulirlah pertemanan dengan banyak pemuda lainnya.  

Dahsyat. Mereka adalah para pengumpul buku, begitu banyak buku. Para pemuda baik hati yang menghabiskan waktunya untuk mencari buku dan meminta bantuan dari para donatur. Setelah dikumpulkan, buku-buku tersebut disalurkan ke banyak rumah buku. Perlahan tapi pasti, ada 12 rumah baca yang sudah didirikan di kampung yang berbeda. Jumlahnya tentu tak begitu banyak, makanya mereka tak henti mengumpulkan buku sejak 2 tahun lebih.
Dari pertemuan inilah, saya mau berlaku adil. Daripada buku-buku itu tak terbaca dan hanya tersimpan di lemari, lebih baik dibaca oleh banyak orang. Saya pun mengatakan kepada teman-teman baru tersebut ingin membuat taman baca juga di rumah. Saya mau berlaku adil dengan membiarkan buku saya dibaca oleh banyak orang. Dijamah oleh mereka yang kesulitan membeli buku.
Selain membuat taman baca, saya juga membantu taman baca lainnya mencari buku, menuliskan berbagai permintaan di wall facebook saya, mengirimkan sejumlah pesan ke teman, dan menodong mereka yang saya tahu dengan senang hati menyumbangkan buku. Dari usaha saya mencari donatur buku, saya menjadi tahu begitu banyak orang yang mau berlaku adil. Mereka mau menyumbangkan buku yang mereka miliki dan malah beberapa orang berniat mengirimkan bantuan dalam bentuk uang.
Kawan para pembaca Kompasiana, saya tak hendak menodong buku anda juga. Tetapi saya ingin mengajak anda untuk membiarkan buku yang dimiliki dibiarkan dibaca oleh orang lain. Oleh mereka yang tak memiliki kemampuan yang sama untuk membeli buku. Agar semakin sedikit buku yang tak terbaca.
Salam hangat dari, Desa Cicantayan, Kab. Sukabumi.